Pagar kehidupan Baliem yang telah roboh

mama-mama pasar, Perempuan
Foto ilustrasi, para Mama-mama Papua yang berjualan di Pasar Potikelek, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Tengah. - Jubi/Imma Pelle

Oleh: Kilitus M. Wetipo*

“Yaaa yawu wanuem e, Wamena lago wago weak o hali usuem e Agamua lago wago weak o, yeleli nele motok welagatek hawur en o ao, halugure nele motok welagatek hawur en o wae, yawu wanuem e agamua lago wago weak o, hali usuem e Agamua lago wago weak o, yeleli nele motok welagatek hawur en o ao, halugure nele motok welagatek hawur en ao”.

Lirik lagu dalam bahasa Baliem di atas dipopulerkan oleh Pikalu, sebuah grup musik yang tidak asing lagi di telinga kalangan masyarakat akar rumput di Baliem (Opa. 2021. Youtube. Baliem Studio. Pikalu Group 10 Lagu Pilihan Terbaik). Terdapat sepuluh lagu Pikalu grup, yang masing-masing lagunya menggambarkan kehidupan orang Baliem yang sudah terbawa arus globalisasi dan tidak lagi hidup sesuai dengan norma-norma budaya.

Ketika lagu mereka dikeluarkan untuk pertama kalinya, orang Baliem merasa tersindir, karena hampir semua pesan yang disampaikan dalam lagu-lagu tersebut berdasarkan peristiwa nyata yang sedang dialami oleh orang Baliem saat ini.

Salah satu lagu dengan pesannya yang kuat adalah “Yawu Wanuem”. Lagu ini mengisahkan tentang kehidupan orang Baliem di zaman modern dan menyindir orang Baliem yang sudah tidak mau lagi berkebun, mencari kayu bakar, dan memelihara ternak, tetapi lebih banyak menghabiskan waktu di Kota Wamena dengan hal-hal yang tidak produktif, seperti mengkonsumsi miras, bermain togel, ikut acara malam, hingga melakukan praktik seks bebas.

Aktivitas tersebut justru dilakukan oleh kaum laki-laki yang mengemban tugas dan peran sebagai kepala keluarga. Alhasil, tanggung jawab rumah tangga seperti mengurus anak, kerja di kebun, mencari kayu bakar, mengambil air di sungai, hingga mencari nafkah diserahkan sepenuhnya kepada kaum perempuan dan anak-anak.

Ironisnya, pola kehidupan seperti ini terus berkembang. Laki-laki Baliem sebagai kepala rumah tangga sering menganggap dirinya lebih berkuasa dibandingkan dengan perempuan dan bertindak sesuka hatinya.

Perempuan Baliem 

Salah satu dokumentasi penting tentang situasi kekinian orang Baliem ditulis oleh Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, Uskup Jayapura orang asli Papua, dalam disertasi doktoralnya “Model Laki-Laki Baru Masyarakat Hubula Suku Dani, Profeminis dan Egalitarian, Perspektif Gender Masyarakat Hubula Suku Dani Era Modern di Lembah Baliem Wamena Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua (2019)”. Menurutnya, ada tiga permasalahan yang sekaligus menjadi bentuk kekerasan langsung maupun tidak langsung, yang dialami oleh perempuan di Lembah Baliem.

Pertama, adanya beban kerja berlapis perempuan di kebun. Curahan waktu dan energi perempuan di kebun justru semakin meningkat, karena laki-laki lebih sering menghabiskan waktu di kota tanpa tujuan yang jelas. Bahkan sudah banyak laki-laki yang malas untuk berkebun. Perempuan pun terpaksa mengelola kebun secara mandiri, padahal sejak dulu kerja di kebun merupakan tugas utama laki-laki.

Kedua, kurang didengarnya pendapat perempuan ketika mereka bersuara atau menyampaikan pendapatnya. Dalam banyak kasus, para suami langsung main pukul ketika dia merasa tersinggung. Situasi patriarki dan subordinasi terhadap perempuan terus melanggengkan situasi kekerasan tersebut dan mematikan suara-suara perempuan Baliem.

Ketiga, dengan beban kerja berlapis karena minimnya tanggung jawab suami, membuat perempuan memiliki ketakutan memiliki anak yang banyak. Perempuan/isteri sering mengeluhkan perilaku suami yang tidak bekerja, tetapi selalu meminta disediakan makan dan berhubungan seks, bahkan ketika para istri sedang lelah karena beban yang banyak. Jika keinginan suami tidak dipenuhi, maka mereka akan main pukul tanpa merasa malu bahwa dia tidak bertanggung jawab pada keluarga.

Tiga persoalan inilah yang menjadi akar persoalan kekerasan terhadap perempuan di Baliem. Sebagai laki-laki Baliem, saya bertanya kepada diri saya sendiri, bagaimana kehidupan orang Baliem dulu dan sekarang? Apakah kehidupan orang Baliem dulu memberikan tanggung jawab rumah tangga sepenuh nya kepada perempuan? Apakah dulu mereka juga melakukan kekerasan terhadap perempuan karena miras? Seperti apa laki-laki Baliem yang sejati?

Saya mencoba menelusuri perubahan tersebut, dengan mengingat kembali cerita dan pengalaman orang-orang tua, saat duduk di pilamo (rumah adat Wamena).

Wen, wam, wene dan wim 

Dalam kehidupan orang Baliem, ada empat filosofi hidup yang dipegang dan dijalankan oleh perempuan dan laki-laki Baliem, yaitu wen, wam, wene dan wim.

Filosofi pertama adalah wen (berkebun/bertani), salah satu mata pencaharian masyarakat Baliem sejak dulu. Setiap laki-laki dewasa Baliem bekerja untuk membuka lahan, mencangkul, membuat ika (parit kebun), yupan (parit besar) dan wen eken (parit kecil). Setelahnya, perempuan akan menanam ai (bibit ubi), hom (keladi), dan sayur-sayuran.

Mereka akan merawat hingga memanen tanaman tersebut. Pembagian kerja gender diantaranya juga jelas terlihat.

Filosofi kedua adalah wam (babi) sebagai harta kekayaan orang Baliem. Setelah wen, maka hasilnya akan digunakan untuk kebutuhan manusia, sedangkan memelihara wam ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pesta-pesta adat.

Ketiga, wene artinya membuat acara-acara adat. Jadi, setelah wen dan wam, maka hasil dari keduanya akan digunakan untuk membuat wene atau acara-acara adat, seperti pernikahan adat, pesta mawe, ap waya, duka dan acara-acara adat lainnya yang berkaitan.

Keempat, wim artinya perang. Wim menjadi bagian terpenting dalam kehidupan orang Baliem, untuk mempertahankan eksistensi sukunya. Tetapi dengan kehadiran negara dan gereja, maka wim sudah tidak dipraktikkan lagi meskipun perang suku sering bergejolak.

Pola kehidupan yang terefleksi dalam keempat filosofi inilah yang diwariskan oleh nenek moyang orang Baliem, bukan miras, togel, judi ataupun seks bebas. Untuk menjalankannya, maka laki-laki dan perempuan sudah seharusnya bekerja sama. Ketika laki-laki sudah selesai membuat kebun, maka perempuan akan menanam hingga memanen. Ketika perempuan memelihara babi, maka sudah menjadi tugas laki-laki untuk mencari kayu bakar guna memasak makanannya.

Kehidupan orang Baliem sejatinya telah disampaikan oleh Almarhum Pastor Frans Lieshout, OFM, misionaris asal Belanda dalam catatan refleksi berjudul “Kebudayaan Suku Hubula Lembah-Baliem (2019)”. Menurutnya, kehidupan orang Baliem sangat mengesankan, namun sebagian nilai dan praktiknya sudah terkikis akibat pengaruh globalisasi.

Selain catatan tersebut, pada 1991 Pater Antropolog Dr. Herman Peters, OFM yang dibantu oleh Pastor awam Bpk. Nico Lokobal mengadakan suatu penelitian di Lembah Baliem dan mereka mencari jawaban atas pertanyaan: “Apakah sebenarnya ‘hidup baik’ dalam pandangan dan penghayatan orang Baliem?

Tulisan ini tidak bermaksud mendiskriminasi bahwa kehidupan orang Baliem dulu lebih baik daripada sekarang. Namun, saya ingin menyampaikan bahwa kehidupan kita sudah tidak sesuai lagi dengan nilai-nilai budaya baik, yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita. Sebagai laki-laki Baliem, saya merasa bahwa kehidupan kita sudah sangat jauh dari norma-norma budaya atau istilah khas orang Baliem yaitu “leger misalaga” yang berarti pagar kehidupan telah roboh.

Karakteristik kehidupan orang Baliem seperti yang sudah dijelaskan di atas berakar dari nilai kebersamaan, nilai relasi, nilai membagi, nilai kerja, nilai damai/rekonsiliasi seperti yang ditulis oleh Bpk. Yulianus Hisage dalam sebuah buku kecil berjudul “Ketika Baliem Memandang Hidup”.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya ingin menegaskan, bahwa ketimpangan peran dan kekerasan terhadap perempuan dalam kehidupan rumah tangga yang disebabkan oleh miras, judi, acara, togel harus segera ditinggalkan. Karena bukan itu sejatinya karakteristik kehidupan orang Baliem. Maka sudah saatnya kita berubah dan melestarikan nilai-nilai budaya yang baik dengan saling bekerja sama, saling menghargai, saling menghormati sebagai laki-laki dan perempuan Baliem sejati. (*)

* Penulis adalah anggota komunitas SWARA Akar Papua (SWAP) dari Koalisi Kampus Untuk Demokrasi Papua, dan mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, Universitas Cenderawasih (Uncen). Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye “16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP)” di Tanah Papua

Komentar
banner 728x250