PGIW minta Polda NTT usut aksi kekerasan ormas kepada mahasiswa Papua

PGIW
Ketua PGIW NTT Pdt. Dr. Mery Kolimon (kiri) dan Sekretaris PGIW NTT Pdt. Kirenius Bole berpose bersama di Kupang. - Antara/Ho-PGIW NTT

Kupang, Jubi – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah atau PGIW Nusa Tenggara Timur atau NTT meminta Kepolisian Daerah Nusa NTT mengusut tuntas tindakan kekerasan oleh sejumlah ormas terhadap mahasiswa Papua di Kupang.

“Menanggapi aksi kekerasan terhadap mahasiswa asal Papua di Kupang, pada 1 Desember 2023 yang lalu, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) NTT, meminta Polda NTT untuk menindak tegas para pelaku,” kata Ketua PGIW NTT Pdt Mery Kolimon di Kupang, Senin, (4/12/2023) malam.

Hal ini disampaikan sehubungan dengan video viral yang menampilkan aksi pemukulan terhadap sejumlah mahasiswa Papua saat menggelar unjuk rasa di Kota Kupang.

Sejumlah mahasiswa tersebut menggelar unjuk rasa pada Jumat (1/12/2023) dalam rangka memperingati 62 tahun deklarasi kemerdekaan west Papua 1 Desember 2023.

Saat mereka sedang berunjuk rasa, didatangi oleh sejumlah oknum ormas di Kota Kupang, yakni Ormas Garda Flobamora dan Garuda. Adu mulut pun tak terhindarkan antara ormas dengan mahasiswa.

Dari video yang beredar, sejumlah mahasiswa itu tak membalas pukulan dari beberapa orang yang tergabung dalam ormas tersebut.

“Sebagai bagian dari masyarakat sipil di NTT, kami minta Polda NTT untuk menindak tegas, ormas-ormas, siapa pun itu, yang melakukan kekerasan terhadap sesama anak bangsa,” tegasnya.

Pihaknya meminta agar kepolisian mencegah agar peristiwa yang sama tidak terulang lagi di masa mendatang.

Menurutnya, negara menjamin kebebasan berpendapat di ruang publik oleh karena itu tindakan persekusi merupakan kekerasan terhadap demokrasi.

Karena itu dia berpesan kepada semua keluarga dan sesama masyarakat Papua yang tersakiti oleh tindak kekerasan tersebut, PGIW NTT menyampaikan permohonan maaf.

“Sesungguhnya masyarakat NTT dan masyarakat Papua adalah orang bersaudara. Tanah Papua menjadi rumah bagi banyak masyarakat NTT yang berjuang di sana. Selama ini kami menghayati dan mensyukuri, persaudaraan, persahabatan dan cinta kasih, di antara masyarakat Papua dan masyarakat NTT. Dengan rasa hormat kami memohon maaf atas kekerasan yang telah terjadi,” ujar Pdt. Mery.

Mengingat ikatan persaudaraan dan cinta kasih itulah, PGIW NTT juga mengimbau kepada masyarakat NTT untuk menerima dan mendukung anak-anak Papua dan sesama anak bangsa dari mana pun juga yang sedang berjuang menimba ilmu pengetahuan di NTT.

“Doa kami, Tuhan akan menolong kita untuk menjadi saudara satu dengan yang lain, baik di masa-masa yang menyenangkan tetapi juga ketika kita menghadapi tantangan.

Karena itu dia mengajak seluruh masyarakat untuk memelihara spirit gotong royong, spirit orang bersaudara, anak-anak bangsa, terlebih lagi sebagai saudara di dalam Tuhan. (*)

Komentar
banner 728x250